Showing posts with label lapangan hijau. Show all posts
Showing posts with label lapangan hijau. Show all posts

Tim Futsal Harkos Hore, Usung Gaya Mutiara Hitam

Harkos Hore Allahu Akbar!!!…………

  Bagi kebanyakan orang, kalimat diatas mungkin terdengar cukup aneh. Meski begitu, motto yang sering diucapkan oleh tim futsal satu ini diakui mampu memberikan magic kepada para pemain saat bertanding. Juga tentunya menjadi keunikan tersendiri di lapangan.

  Tim Futsal Harkos Hore sejatinya diresmikan sejak setahun silam, tepatnya pada 9 Januari 2013. Ide awal berdirinya tim ini tercipta karena kesamaan hobi dan aktivitas futsal bersama yang sering dilakukan para anggotanya.

  Salah satu pencetus TFHH (red-Tim Futsal Harkos Hore), Hildan, mengungkapkan nama TFHH diambil karena kelucuan tingkah laku diantara para anggota. Kata “Harkos” diambil dari bahasa Sunda yang berarti ‘janji palsu’ atau ‘omong doang’.

  “Alasan memilih nama ‘Harkos Hore’ karena dulu kami sering berencana untuk bermain futsal, tapi harkos wae kebanyakan gak jadi,” ujar Hildan kepada Kru Tanjungsari Media, Kamis(17/7).
“Meski begitu kami tetap gembira, makanya kami tambahkan kata ‘Hore’, sehingga kami sepakat untuk menggunakan nama Tim Futsal Harkos Hore,” lanjut siswa kelas XII ini.

  Saat ini TFHH memiliki 9 pemain yang seluruh nya merupakan siswa dan alumni dari salah satu sekolah menengah atas di Tanjungsari. Meskipun masih tergolong baru, tim in cukup serius dalam membenahi manajemen tim. Penunjukkan seorang Manajer dan beberapa official tim menunjukkan keseriusan mereka dalam membentuk sebuah tim futsal yang profesional.

  Meski belum punya prestasi lebih, TFHH punya pengalaman bertanding yang cukup tinggi. Dalam kurun waku satu tahun saja, lebih dari 5 turnamen futsal yang sudah diikuti. Pencapaian terbaik pernah mereka raih saat menjadi 4 besar di ajang Open NAS Jaya Cup yang kemudian didaulat menjadi wakil di ajang open Oniba Cup. Sayang di ajang yang digelar di Cicalengka tersebut, penampilan mereka terhenti di babak 16 besar.

  Pilar Juara, Main Mirip Persipura
Gaya bermain passing pendek dan mengutamakan team work menjadi ciri permainan tim ini. Namun begitu, mereka enggan menyamakan style bermain dengan klub eropa. Dari segi permainan, Hildan menilai timnya cenderung mirip dengan tim ‘Mutiara Hitam’.
“Gaya bermain kami ya bisa dibilang mirip salah satu tim ISL, Persipura,” tutur Hildan.

  Yang menarik dari TFHH adalah semua pemainnya merupakan pilar dari Timnas SMAN Tanjungsari yang menjuarai Liga Pelajar Sumedang (LPS) 2014. Dengan kualitas pemain yang cukup mumpuni tak salah jika peluang untuk merebut berbagai gelar kejuaraaan terbuka lebar. Dalam waktu dekat, mereka akan menjajal turnamen terbuka di Tajimalela yang bertajuk ‘Ramadhan Fair Play’ pada 20-25 Juli ini.
  Perlu Dukungan

Di akhir perbincangan, TFHH menyampaikan harapannya terkait kegiatan olahraga di Tanjungsari. “Kami sih berharap pemerintah dan masyarakat ikut mendukung terhadap kegiatan remaja khususnya dalam bidang olahraga,” ujar Hildan.
Salah satu pemain, Rizky, menyatakan harapannya untuk kemajuan TFHH. “Kedepannya, semoga tim lebih solid dan menjuarai turnamen-turnamen yang akan diikuti,” pungkasnya.


Nama Klub : Tim Futsal Harkos Hore
Berdiri : 9 Januari 2013
Sekretariat : Griya Taman Lestari C3 No.29/089604182766
Susunan Official :
  • Manager : Mentari Fuzi
  • Official : Ilham Imanudin, Sarah Riayatul, Yeni Puspasari , Sindi Mayasari, Grace Irene
Susuna Pemain :
  • Rizky Maulana (Penjaga Gawang)
  • Mochamad Iqbal (Penjaga Gawang)
  • Ahmad Tresna (Pemain Belakang)
  • Hanhan Risnandar (Pemain Belakang)
  • Rizal Mustofa (Pemain Belakang)
  • Prasetya Anwari (Pemain Belakang)
  • David Ginnola (Pemain Belakang)
  • Eka Maulana A (Pemain Belakang)
  • Hildan Putra Dwika (Pemain Belakang)
  • Krisna Ali (Pemain Belakang)
  • Ghifari Ibnu Fadhilah (Pemain Belakang)
 Sumber : http://tanjungsarimedia.tk/blog/2014/07/23/tim-futsal-harkos-hore-usung-gaya-mutiara-hitam/

Emotional Quotien, Boomerang Bagi Pemain Bola?


Kembali ke Stadion dengan kapasitas 1.000 orang. Kick off babak kedua sudah dimulai. FIB bermain  10 orang melawan Juara bertahan tahun lalu, Fikom. Chants penonton semakin terdengar di Final Forsi 2015. FIB mulai digempur dan Fikom mulai menguasai ball possession.
No punggung (10) mencoba akselerasi di pertahanan kanan FIB. Dan Prriiiiiiitttt .. wasit menunjuk titik penalti. Fikom mendapatkan hadiah penalti setelah tertinggal 1-0 di babak pertama.
Supporter Fikom berdiri sejenak dari tempat duduknya. Setidaknya, mereka bisa menarik nafas panjang setelah mempunyai kesempatan untuk menyamakan kedudukan. 
Dengan egois dan emosional tinggi, saya mengambil kembali si kulit bundar menuju 12pas, dan siap untuk mengeksekusi penalti.

 “Urang percaya ka maneh dan, sok tendang penalti” salah satu pemain Fikom yang juga ingin menendang penalti.
 Dengan ditopang dua beban, bola disimpan dititik putih, tepat 12 meter dihadapan kiper. Taklupa, style Neymar Jr menendang penalti dilakukan. Target topscore (Selisih satu goal dengan kompetitor sebelumnya), kepercayaan kapten, tim dan supporter saya bebankan pada pundak dan kaki kanan saya (dengan engkel yang belum fit).

  Peluit dibunyikan. Hati bermaksud mengarahkan bola ke kanan gawang, namun kaki menolaknya. dan melakukan shooting  keras. Prriiiiiiitttt .. 
bukan peluit tanda masuk yang dibunyikan. Namun peluit tanda bola melambung diatas gawang lawan. Goalkick untuk FIB.

 Fikom harus kembali memacu detak jantungnya setelah kesempatan menyamakan kedudukan gagal. Skor tetap 1-0 untuk keunggulan FIB. No 10 tertunduk lesu setelah eksekusinya gagal. Rekan tim-nya memberikan motivasi, berharap masih ada 15menit terakhir untuk mendapatkan penalti selanjutnya.

 Setelah penalti gagal, Fikom mengurung setengah lapang permainan. Beberapa kali kemelut terjadi di depan gawang FIB. Heading sang kapten mengenai mistar gawang, salah satunya. Dan...
Prriiiiiiitttt Prriiiiiiitttt .. Prriiiiiiitttt .. peluit panjang dibunyikan.
Semua pemain lawan berhamburan ke lapangan. Kecuali saya. 
Saya tergeletak. Tertunduk lesu. Menyesal. Dan sempat menangis untuk ketiga kalinya, setelah insiden kartu merah dan cedera engkel di pertandingan sebelumnya.
 Mental benar-benar diuji saat itu. Tendangan Penalti yang seharusnya membalikan keadaan, gagal. Rekan yang lain menghampiri, dan kembali memberi motivasi yang lebih.


 Memang. Momen ini tak akan terlupakan begitu saja. 
Saya sudah mengecewakan pendukung dan yang terlibat di Tim Kuning-Hijau itu.
Hal ini juga dirasakan oleh ujung tombak Persib Bandung, Spasojevic. Spaso gagal mengeksekusi penalti ke gawang Persiba Balikpapan dalam laga Piala Presiden 2015. 
Lebih jauh lagi, disana ada alien yang juga pernah merasakan gagalnya tendangan penalti. Ya, Lionel Messi. Messi telah gagal menjadi eksekutor penalti sebanyak 14 kali dari 63 kali dia menjadi algojo penalti.

 Di sepakbola, kita juga tetap membutuhkan Emotional Quotient (EQ), EQ adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, kemudian mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap permainannya di lapangan.

Catatan goal saya di Sepakbola FORSI 2015
TANGGAL
VS
SKOR
NYEKOR
16 SEPTEMBER 2015
FIKOM vs FTG
3 vs 0
-
21 SEPTEMBER 2015
FIKOM vs FMIPA
0 vs 1
*
28 SEPTEMBER 2015
FIKOM vs Farmasi
4 vs 0
3
2 OKTOBER 2015
FIKOM vs Fisip
2 vs 0
1
5 OKTOBER 2015
FIKOM vs Faperta
1 vs 0
*
8 OKTOBER 2015
FIKOM vs D3 Fisip
4 vs 1
2
12 OKTOBER 2015
FIKOM vs FIB
0 vs 1
-
*Tidak ikut bermain

“Kalah itu memang sakit. Tapi, tidak bangkit dari kekalahan lebih dari sakit” –Naufal, Kapten FIKOM dan USBU

“Ego itu jangan dihilangkan. Itu karaktermu, dan” – Prasetya Anwary, Kapten Tim PS Beltim yang juga satu tim di @TFHHoree

Kartu dan Oli






  Kartu kuning maupun merah menjadi tak asing lagi bagi saya di setiap kompetisi. Keduanya sering dikeluarkan oleh wasit dengan alasan apapun.


  Kemarin, kedua kartu itu kembali keluar di saku depan dan saku belakang wasit. Kartu kuning pertama keluar akibat aksi "jail" saya menendang kaki pemain lawan yang  lebih dulu menyikut saya. Akibatnya, kartu kuning pertama keluar di pertandingan pembukaan sepakbola FORSI vs Geologi kemarin.
 Lebih bermain hati-hati di babak kedua, saya ditempatkan di posisi kesukaan saya, striker. Babak kedua berjalan separuh, wasit kembali mengeluarkan  kartu kuningnya untuk saya karena melakukan aksi diving. Padahal di saat yang sama Assisten wasit 2 telah mengangkat bendera karena saya dijegal oleh bek lawan. Namun, keputusan sepenuhnya berada di wasit inti. Alhasil, saya harus istirahat lebih cepat karena mendapatkan kartu merah (tidak langsung) dan tidak boleh bermain satu (1) pertandingan Senin nanti vs FMIPA karena akumulasi kartu.
 Tahun kemarin di turnamen yang sama, saya juga merasakan akumulasi kartu. Di babak 8 besar saya terpaksa menonton pertandingan FIKOM vs FIB.  Seolah kartu kuning dan merah menjadi langganan bagi saya.

 FIKOM berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 3-0 vs Geologi.

 Selesai pertandingan, saya bergegas pulang lebih dulu dibanding pemain lain. Perjalanan pulang disponsori oleh macetnya lalu lintas dari arah Jatinangor ke Tanjungsari maupun sebaliknya. Macet itu disebabkan tergulingnya truk bermuatan tanah di sekitar sanur. Hal itu membuat saya menurunkan km/jam motor saya menuju rumah. Tak sampai rumah, motor saya oleng akibat ban depan dan belakang mengenai oli sekitar pengkolan bangkong. Motor saya langsung meluncur ke tengah dan saya jatuh di dekat oli tadi. Beruntung,  teman saya, Yudin tidak mengalami hal yang sama di belakang. akhirnya saya dibonceng oleh Yudin menuju rumah.




 Mungkin kejadian diatas memperingati saya agar lebih banyak istirahat dan diam dirumah. sekian.



Terkait Sanksi FIFA untuk PSSI, ini Tanggapan Warga Tanjungsari

Kekisruhan persepakbolaan di tanah air yang terjadi sejak beberapa waktu lalu akhirnya membuahkan sanksi FIFA untuk Persatuan Sepak Bola seluruh Indonesia (PSSI). Seperti yang dilansir di media-media nasional, beberapa sanksi resmi dijatuhkan termasuk larangan bertanding di ajang kompetisi yang digelar oleh FIFA dan AFC.

Peristiwa ini mendapatkan perhatian yang cukup besar dari masyarakat, termasuk warga Kecamatan Tanjungsari, Sumedang. Salah seorang warga yang aktif bermain futsal, Asep Nurdin, menganggap sanksi yang dijatuhkan FIFA tidak terlalu menjadi masalah.

“Untuk kemajuan sepakbola Indonesia harus ada yg dikorbankan, toh kompetisi dalam negeri masih bisa berjalan, hanya tidak diakui FIFA saja,” ujarnya.

Asep juga memberikan contoh negara yang sukses justru setelah sanksi FIFA dijatuhkan.
Australia pun pernah dibanned tapi sekarang malah jadi langganan piala dunia. Anggap untuk perbaikan dan ancang-ancang lebih baik saja, karena sampai sekarang belum ada prestasi sepakbola Indonesia yg mentereng,” lanjutnya.

Tanggapan berbeda dilontarkan oleh beberapa warga lain. Salah satunya datang dari Hildan Putra Dwika,  pesepakbola yang juga aktif dalam Volunteer Development Program PSSI.
“Indonesia memang harus istirahat sejenak dalam sepakbola, namun apakah bisa dipertanggung jawabkan oleh PSSI, Presiden, Menpora dan semua pihak yang terkait mengenai sanksi FIFA?” kata Hildan kepada Tanjungsari Media, Senin(1/6).

Terlepas dari pro kontra yang terjadi, semua pihak menginginkan hal yang sama, yaitu kemajuan sepak bola Merah Putih.

sumber : http://tanjungsarimedia.tk/blog/2015/06/01/terkait-sanksi-fifa-untuk-pssi-ini-tanggapan-warga-tanjungsari/ 



Apa itu FORCE MAJEURE ?

 Hari menjelang siang, matahari pun mulai tinggi. Kopi di cangkir telah tandas, begitu pula pisang goreng di sebelahnya. Semilir hembusan angin pagi nan sejuk, membuat saya tenggelam dalam lamunan. Tak terasa telah saya habiskan sebuah pagi di beranda depan rumah.

Force Majeure. Sebuah kalimat yang dalam tiga hari belakangan tiba-tiba menjadi populer dan hangat dibicarakan kalangan pelaku sepakbola tanah air. Hal tersebut berkaitan dengan keputusan PSSI untuk menghentikan gelaran QNB League 2015, dengan alasan Force Majeure.

Awal sekali saya ingin menegaskan jika artikel ini tidak memiliki tendensi apapun. Saya juga tidak sedang memposisikan diri untuk mendukung, atau berseberangan dengan siapapun. Saya hanya ingin membuat sebuah kajian yang sifatnya pendapat pribadi, mengenai apa itu force majeure.

Apa itu force majeure? pertanyaan yang saat ini saya yakin ada dibenak sebagian besar pesepakbola di Indonesia, sebuah pertanyaan yang juga ada dalam benak saya.

Berdasarkan rasa ingin tahu tersebut, maka sayapun berusaha untuk mencari sumber-sumber yang secara hukum dapat dijadikan referensi untuk memahami apa itu force majeure, dan hal-hal apa saja yang dapat dijadikan dasar untuk mengambil  keputusan tersebut.

Force Majeure sendiri secara harfiah dapat diartikan sebagai "Kekuatan yang lebih besar".

Dalam konteks hukum, force majeure berarti sebagai klausul yang memberikan dasar pemaaf pada salah satu pihak dalam suatu perjanjian, untuk menanggung sesuatu "hal yang tidak dapat diperkirakan" sebelumnya, yang mengakibatkan pihak tersebut tidak dapat menunaikan kewajibannya berdasarkan kontrak yang telah disepakati.

Hal yang tidak dapat diperkirakan tersebut adalah hal yang mengakibatkan situasi di mana tidak dapat diambil langkah apa pun untuk "mengeliminir, atau menghindarinya". Oleh karena itu penting artinya dua kriteria awal (mengeliminir, atau menghindari) tersebut harus terpenuhi terlebih dahulu, agar dalil force majeure dapat diterima.

Bagaimana jika salah satu pihak yang terikat dalam kontrak menyadari bahwa ada kemungkinan dimasa perjanjian atas kontrak yang ditandatanganinya. Sehingga akan tak terhindarkan, dan tak dapat dieliminir terjadi suatu kejadian tertentu, yang dapat berakibat tidak terlaksananya kewajiban sebagaimana digariskan dalam kontrak.

Dalam ruang lingkup yang lebih spesifik dari force majeure, hal tersebut dikenal dengan “Acts of God” atau katakanlah "Kehendak Tuhan".

Kejadian-kejadian yang dapat dimasukkan dalam golongan "Acts of God" diantaranya adalah bencana alam seperti banjir, gemba bumi, tsunami, atau gunung meletus.

Bisa juga kejadian yang tidak tergolong sebagai "Kehendak Tuhan" namum memiliki dampak yang sangat luar biasa seperti konflik, perang saudara, darurat sipil maupun militer, kerusuhan masal (kita pernah mengalami di tahun 1997, dan saat itu liga dihentikan), krisis ekonomi, atau wabah penyakit (seperti flu burung yang pernah terjadi di daratan Tiongkok pada tahun 2004).

Artinya klausul force majeure sendiri pada umumnya terkait dengan hal-hal yang tidak dapat diprediksi, dan di luar keadaan yang bersifat normal.

Untuk menetapkan sebuah situasi sehingga pada akhirnya dapat dikatakan sebagai situasi force majeure, keadaan tersebut harus terlebih dahulu melewati beberapa tes, diantaranya:

1. Externality - Dikarenakan Pihak Lain

- The defendant must have nothing to do with the event’s happening.

- Pihak-pihak yang terkait kontrak harus tidak ada hubungannya dengan situasi yang tengah terjadi.

Mengenai poin ini saya pikir pihak federasi beralasan jika liga tidak dapat diputar karena adanya larangan dari pihak pemerintah (Menpora). Pemerintah dalam hal ini bisa dikatakan pihak lain diluar pemain, klub maupun Federasi.

Ok lah mungkin kita masih bisa menerima itu. Walaupun sejatinya dari apa yang saya tahu pemerintah malah mendorong liga untuk tetap digulirkan, namun dengan persyaratan yang ditentukan. Federasi yang dikarenakan satu dan lain hal, dalam beberapa kesempatan malah menghentikan liga.
2. Unpredictability - Tidak Dapat Diperkirakan

- If the event could be foreseen, the defendant is obligated to have prepared for it (thus, being unprepared for a foreseeable event leaves the defendant culpable).

- Jika situasi yang terjadi dapat diperkirakan akan terjadi, maka pihak-pihak yang terkait sudah seharusnya mempersiapkan diri (dengan demikian, jika pihak-pihak tersebut tidak mempersiapkan diri maka akan dinyatakan bersalah bersalah).

Untuk poin ini saya pikir federasi sudah seharusnya memperkirakan. Mengingat peristiwa ini (pembekuan dan pelarangan liga) toh tidak terjadi dengan serta-merta. Ada proses (pembicaraan, negosiasi, perdebatan hingga perlawanan) yang telah dilalui sehingga pada akhirnya membuat pembekuan, dan pelarangan liga untuk digelar ini dikeluarkan.
3. Irresistibility - Tidak Dapat Dihindari

-The consequences of the event must have been unpreventable.

- Konsekuensi dari sebuah kejadian yang memang tidak dapat dihindari.

Poin tidak dapat dihindari ini saya pikir titik paling lemah dari dalil force majeure yang dinyatakan oleh federasi. Mengingat penyebab dari kejadian ini (pembekuan, dan tidak dapat digelarnya liga) bukanlah karena hal-hal yang tidak dapat dihindari.

Apa yang terjadi saat ini sangat dapat dihindari. Ada jalan lain yang sebenarnya jauh lebih bijaksana selain menghentikan liga dengan dalil force majeure. Namun federasi seakan mengabaikannya, dengan bersikeras pada pendapat mereka jika keadaan saat ini sudah termasuk dalam kategori force majeure.

Menjadi aneh ketika federasi mengambil sebuah keputusan yang sangat penting (penghentian liga) tanpa persetujuan, atau mendengar pendapat dari klub-klub anggotanya, yang notabene adalah pemilik saham dari PT Liga Indonesia, sebagai operator liga. Belum lagi pendapat pelatih, dan pemain.

Keputusan tersebut seakan menjadi cerminan ketidakpekaan federasi. Tanpa melihat akibat yang akan dipikul oleh struktur (klub, pelatih, dan pemain) dibawahnya. Keputusan tersebut juga berpotensi memunculkan pikiran negatif dari banyak pihak, jika diambil sebagai langkah untuk membebaskan pihak-pihak yang diuntungkan dari tanggung jawab.

Menarik ditunggu bagaimana reaksi dari pihak-pihak (klub, pelatih, dan pemain) yang dalam hal ini terlibat dalam perjanjian yang telah dikategorikan sebagai force majeure tersebut. Apakah mereka menerima, atau menolak. Mengingat dari apa yang saya tahu (silakan koreksi jika salah) situasi force majeure tersebut tidak dapat diputuskan hanya oleh satu pihak.
Kesimpulannya,
In summary, force majeure events may include any event beyond the control of the parties, such as a war, strike, riot, crime, or an “act of God” (e.g., flooding, earthquake, or volcanic eruption), such that the event passes the three “tests” listed above
Singkatnya, peristiwa force majeure yang termasuk dalam kejadian di luar kendali dari para pihak diantaranya perang, pemogokan, kerusuhan, kejahatan, atau "Kehendak Tuhan" (misalnya banjir, gempa bumi, atau letusan gunung berapi), sehingga kejadian tersebut telah melewati tiga "tes" yang tercantum di atas.

Apakah kondisi di Republik saat ini dapat dikatakan tengah mengalami apa itu yang dinamakan "Acts of God" atau "Kehendak Tuhan"? saya pikir tidak. Apa yang terjadi saat ini lebih kepada cerminan begitu tinggi, besar, atau keras ego pihak-pihak yang tengah berseteru.

Bukankah pemimpin yang baik harus selalu peka terhadap keluh kesah dari mereka yang dipimpin. Bahkan dalam ungkapan yang lebih ekstrem, "Seorang pemimpin seharusnya rela mati agar anak buahnya tetap hidup, bukan sebaliknya".

Dalam sebuah kisah Jenderal Soedirman pun pernah berkata "Jangan korbankan anak buahmu untuk karirmu, tapi korbankan karirmu untuk anak buahmu".

Oleh karena itu, berbekal pemahaman saya dari beberapa referensi yang saya baca, dan sudah saya coba uraikan dengan panjang lebar diatas. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapapun, dan tanpa ada rasa keberpihakan kepada siapapun, saya pikir keadaan yang terjadi saat ini, masih belum sampai kepada apa itu yang dikategorikan sebagai "Force Majeure".
Akhir sekali, kedewasaan sebuah bangsa tidak hanya terlihat dari bagaimana mereka menghargai adanya perbedaan pendapat. Namun lebih dari itu adalah sejauh mana mereka mampu mencari solusi dari setiap permasalahan yang terkait dengan perbedaan tersebut, sesuai dengan aturan-aturan dan kaidah yang berlaku.

Harapan Besar Semua Elemen di MDP PSSI 2015

PSSI akhirnya resmi menutup kegiatan Members Development Program (MDP) yang berlangsung sejak Minggu (29/3) hingga Rabu (3/4) malam di Hotel Parklane, Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh perwakilan Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI dan para volunteer yang akan diterjunkan ke seluruh Asprov.

Di hari terakhir materi MDP diberikan oleh Direktur Members&Development, Budi Setiawan, Direktur Kompetisi, Tommy Welly, dan Direktur Luar Negeri, Azwan Karim.

Towel sapaan akrap Tommy Welly mengatakan ia memberikan materi mengenai kompetisi amatir kepada seluruh perwakilan Asprov. "Diskusi berlangsung dimulai dari pukul 09.00 WIB. Banyak pertanyaan yang diajukan oleh peserta soal komeptisi," kata Towel.

Sedangkan Sekretaris Asprov Sumsel, Augie Bunyamin mengatakan acara MDP ini berlangsung menarik. "Kita para Asprov dapat mengetahui soal hal-hal baru yang disampaikan oleh PSSI melalui acara ini. Kita sharing juga antar Asprov bagaimana melaksanakan program-program dengan baik. Intinya kami terus bekerja keras demi kemajuan sepak bola Indonesia," jelas Augie.

Sementara itu, Budi Setiawan menyampaikan program volunteer kepada Asprov agar dapat diketahui apa saja tugas, hak, dan kewajiban dari volunteer, PSSI pusat maupun Asprov. "Untuk program MDP, ini memang kegiatan sudah dijadwalkan rutin tiap tahun. Di tahun ini ada program baru yakni volunteer untuk Asprov," kata Budi.

"Kita harap semua program berjalan sukses dan lancar. Selain itu register pemain tiap Asprov juga online kita lakukan. Yang jelas ini bukan program untuk mengumpulkan Asprov jelang Kongres PSSI tanggal 18 April mendatang,"bebernya.

"Untuk materi IT merupakan pelatihan penggunaan sistem registrasi online yang bertujuan untuk mempermudah perekaman data segala aktivitas sepakbola di lingkungan Asprov,"pungkasnya.

Acara ini ditutup pukul 22.00 WIB dengan penyerahan sertifikat kepada perwakilan Ketua Asprov, Sekretaris Asprov, dan Volunteer Asprov. Para volunteer akan mulai bertugas Senin (6/3) mendatang.

repost from :  http://pssi.org/in/read/Grass-Root-And-Youth-Development/Harapan-Besar-Semua-Elemen-di-MDP-PSSI-2015-6660