Harkos Hore Allahu Akbar!!!…………
Bagi kebanyakan orang, kalimat diatas mungkin terdengar cukup aneh.
Meski begitu, motto yang sering diucapkan oleh tim futsal satu
ini diakui mampu memberikan magic kepada para pemain saat bertanding. Juga tentunya menjadi keunikan tersendiri di lapangan.
Tim Futsal Harkos Hore sejatinya diresmikan sejak setahun silam,
tepatnya pada 9 Januari 2013. Ide awal berdirinya tim ini tercipta
karena kesamaan hobi dan aktivitas futsal bersama yang sering dilakukan
para anggotanya.
Salah satu pencetus TFHH (red-Tim Futsal Harkos Hore), Hildan,
mengungkapkan nama TFHH diambil karena kelucuan tingkah laku diantara
para anggota. Kata “Harkos” diambil dari bahasa Sunda yang berarti
‘janji palsu’ atau ‘omong doang’.
“Alasan memilih nama ‘Harkos Hore’ karena dulu kami sering berencana untuk bermain futsal, tapi harkos wae kebanyakan gak jadi,” ujar Hildan kepada Kru Tanjungsari Media, Kamis(17/7).
“Meski begitu kami tetap gembira, makanya kami tambahkan kata ‘Hore’,
sehingga kami sepakat untuk menggunakan nama Tim Futsal Harkos Hore,”
lanjut siswa kelas XII ini.
Saat ini TFHH memiliki 9 pemain yang seluruh nya merupakan siswa dan
alumni dari salah satu sekolah menengah atas di Tanjungsari. Meskipun
masih tergolong baru, tim in cukup serius dalam membenahi manajemen tim.
Penunjukkan seorang Manajer dan beberapa official tim menunjukkan keseriusan mereka dalam membentuk sebuah tim futsal yang profesional.
Meski belum punya prestasi lebih, TFHH punya pengalaman bertanding
yang cukup tinggi. Dalam kurun waku satu tahun saja, lebih dari 5
turnamen futsal yang sudah diikuti. Pencapaian terbaik pernah mereka
raih saat menjadi 4 besar di ajang Open NAS Jaya Cup yang kemudian
didaulat menjadi wakil di ajang open Oniba Cup. Sayang di ajang yang
digelar di Cicalengka tersebut, penampilan mereka terhenti di babak 16
besar.
Pilar Juara, Main Mirip Persipura
Gaya bermain passing pendek dan mengutamakan team work menjadi ciri
permainan tim ini. Namun begitu, mereka enggan menyamakan style bermain
dengan klub eropa. Dari segi permainan, Hildan menilai timnya cenderung mirip dengan tim ‘Mutiara Hitam’.
“Gaya bermain kami ya bisa dibilang mirip salah satu tim ISL, Persipura,” tutur Hildan.
Yang menarik dari TFHH adalah semua pemainnya merupakan pilar dari
Timnas SMAN Tanjungsari yang menjuarai Liga Pelajar Sumedang (LPS) 2014.
Dengan kualitas pemain yang cukup mumpuni tak salah jika peluang untuk
merebut berbagai gelar kejuaraaan terbuka lebar. Dalam waktu dekat,
mereka akan menjajal turnamen terbuka di Tajimalela yang bertajuk
‘Ramadhan Fair Play’ pada 20-25 Juli ini.
Perlu Dukungan
Di akhir perbincangan, TFHH menyampaikan harapannya terkait kegiatan olahraga di Tanjungsari. “Kami sih berharap pemerintah dan masyarakat ikut mendukung terhadap kegiatan remaja khususnya dalam bidang olahraga,” ujar Hildan.
Salah satu pemain, Rizky, menyatakan harapannya untuk kemajuan TFHH.
“Kedepannya, semoga tim lebih solid dan menjuarai turnamen-turnamen yang
akan diikuti,” pungkasnya.
Nama Klub : Tim Futsal Harkos Hore
Berdiri : 9 Januari 2013
Sekretariat : Griya Taman Lestari C3 No.29/089604182766
Susunan Official :
- Manager : Mentari Fuzi
- Official : Ilham Imanudin, Sarah Riayatul, Yeni Puspasari , Sindi Mayasari, Grace Irene
Susuna Pemain :
- Rizky Maulana (Penjaga Gawang)
- Mochamad Iqbal (Penjaga Gawang)
- Ahmad Tresna (Pemain Belakang)
- Hanhan Risnandar (Pemain Belakang)
- Rizal Mustofa (Pemain Belakang)
- Prasetya Anwari (Pemain Belakang)
- David Ginnola (Pemain Belakang)
- Eka Maulana A (Pemain Belakang)
- Hildan Putra Dwika (Pemain Belakang)
- Krisna Ali (Pemain Belakang)
- Ghifari Ibnu Fadhilah (Pemain Belakang)
Sumber : http://tanjungsarimedia.tk/blog/2014/07/23/tim-futsal-harkos-hore-usung-gaya-mutiara-hitam/
Hildan Putra Dwika, remaja agak kurus dengan rambut lurus ini lahir
di kota keraton, Yogyakarta, tepatnya pada 28 November 1996. Bersama
keluarganya, Ia sempat hijrah ke beberapa kota sebelum sebelum akhirnya
menetap di Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang sekitar tahun 2002.
Mulai tahun itu pula, Hildan kecil menjejakan kakinya di Sekolah Dasar
negeri 1 Tanjungsari dan mulai mengenal dengan Olahraga yang kini
digelutinya, sepak bola.
Cukup 6 tahun sejak Ia mengenal si kulit bundar, Hildan
memperlihatkan tajinya. Ia menjadi bagian dari kesuksesan tim sepakbola
sekolahnya dengan berhasil menggondol Juara 3 pada ajang Danone CUP
se-Kecamatan Tanjungsari tahun 2007. Prestasi ini mendorong semangatnya
dalam menekuni sepakbola. Tahun 2008, melanjutkan pendidikannya ke SMPN 1
Tanjungsari dan bergabung dengan ekstrakurikuler sepakbola.
Kerja kerasnya selama berlatih dengan tim ini terbayar cukup manis.
Bersama timnya Hildan sanggup merengkuh juara 3 pada ajang Liga Pelajar
Indonesia tahun 2010. Pada 2011, ia kemudian meneruskan sekolahnya ke
SMA Negeri 1 Tanjungsari. Selama 2 kali mengikuti turnamen sepak bola,
striker yang mengidolakan Neymar ini dapat memberikan trophy juara 2
pada ajang Liga Pelajar Sumedang pada 2013.
Tak cukup puas bermain di tim sekolah, membuat Hildan bergerilya
mengasah kemampuan di tim sepakbola semi profesional. dI Tahun 2012, ia
masuk menjadi bagian tim PSAD Junior U-17. Setahun sesudahnya, penggemar
minuman khas Jawa, Wedang, masuk dalam skuad PR Grup U-17/U-19.
Berbekal pengalamannya berlatih diberbagai tim, Ia lolos seleksi pemain
sepakbola sebagai perwakilan kecamatan Tanjungsari untuk tim TUFC di
ajang Piala Bupati Sumedang untuk usia dibawah 19 tahun pada 2012.
Hasilnya sungguh membanggakan. Timnya mampu merengkuh Juara 1 pada ajang
tersebut.
Rupanya Hildan benar-benar tidak bisa jauh dari bola. Olahraga futsal
menjadi aktivitas rutin dikala Ia tak punya jadwal sepak bola. Sempat
tergabung dalam tim futsal “Simpanse”, awal 2013 ia memutuskan membentuk
sebuah tim futsal bernama Tim Futsal Harkos Hore dengan beberapa teman
SMA-nya.(Baca : Tim Futsal Harkos Hore, Usung Gaya Mutiara Hitam). Sampai saat ini, TFHH menjadi tim yang dibela oleh Hildan.
Jadi wartawan sekolah dan terjun ke dunia komedi
Meski sibuk bermain bola bukan berarti menghalangi penyuka game
sepakbola ini untuk mencoba hal-hal yang berbeda. Semasa berseragam
putih abu, Ia sempat menjajaki dunia wartawan dengan bergabung disalah
satu ekskul kejurnalistikan. Menjadi wartawan sekolah, mau tak mau Ia
musti menulis berbagai berita yang terjadi disekolahnya. Meski hanya
setahun. hal ini semakin mendorong minatnya terhadap dunia
tulis-menulis, dari 2011 sampai sekarang ia aktif menbuat pelbagai
tulisan di blog miliknya. (Blognya dapat diakses http://hildanputradwika.blogspot.com)
Di akhir masa SMAnya, Hildan bergabung dengan ekskul seni teater.
Uniknya, Ia ikut ambil bagian dengan seni lawak yang tergabung dalam
grup komedi bernama Trio Jancuk. Bersama 2 temannya, Raka dan Riyo,
Hildan sudah beberapa kali tampil di acara-acara sekolah. Teranyar, Ia
unjuk gigi dalam pentas seni sekolahnya di awal 2014. Ia pun sempat
tampil di Salah satu event di Jatinangor Town Square, Jatinangor, April
2014 silam.
“Inspirasi bermain seni komedi itu muncul ketika saya membaca kutipan
dari buku Sujiwo Tejo,” ujar Hildan kepada kru Tanjungsari Media.
“Ia (Sujiwo Tejo) menulis ‘Sujud terbesar adalah membahagiakan orang
lain’, kutipan ini yang benar-benar motivasi buat saya,” lanjutnya.
Nampaknya, sepakbola dan seni komedi telah memberikan perubahan terhadap hidup pria yang mempunyai akun facebook Hildan Putra Dwika. Namun, jika diharuskan memilih, Ia mengaku ingin terus bergelut di bidang sepakbola.
“Pilihan utama ya tentu sepak bola, karena disana saya sudah mengalamai banyak hal,” katanya.
Hildan, yang kini menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi
negeri di Jatinangor ini mengungkapkan keinginan luhurnya untuk
Tanjungsari. Ia mempunyai cita-cita membuka sekolah sepak bola di tanah
tempat ia beranjak dewasa.
“Kedepan, saya kepengen membuat sebuah Sekolah Sepak Bola buat usia
remaja di kawasan Tanjungsari,” ujar remaja jomblo satu ini sambil
tersenyum.
sumber : http://tanjungsarimedia.tk/blog/2014/08/09/hildan-lihai-menggocek-bola-pandai-bikin-ketawa/
Kekisruhan persepakbolaan di tanah air yang terjadi sejak beberapa waktu lalu akhirnya membuahkan sanksi FIFA untuk Persatuan Sepak Bola
seluruh Indonesia (PSSI). Seperti yang dilansir di media-media
nasional, beberapa sanksi resmi dijatuhkan termasuk larangan bertanding
di ajang kompetisi yang digelar oleh FIFA dan AFC.
Peristiwa
ini mendapatkan perhatian yang cukup besar dari masyarakat, termasuk
warga Kecamatan Tanjungsari, Sumedang. Salah seorang warga yang aktif
bermain futsal, Asep Nurdin, menganggap sanksi yang dijatuhkan FIFA
tidak terlalu menjadi masalah.
“Untuk kemajuan sepakbola Indonesia harus ada yg dikorbankan, toh
kompetisi dalam negeri masih bisa berjalan, hanya tidak diakui FIFA
saja,” ujarnya.
Asep juga memberikan contoh negara yang sukses justru setelah sanksi FIFA dijatuhkan.
“Australia pun pernah dibanned tapi sekarang malah jadi langganan piala dunia.
Anggap untuk perbaikan dan ancang-ancang lebih baik saja, karena sampai
sekarang belum ada prestasi sepakbola Indonesia yg mentereng,”
lanjutnya.
Tanggapan berbeda dilontarkan oleh beberapa warga lain. Salah satunya
datang dari Hildan Putra Dwika, pesepakbola yang juga aktif dalam Volunteer Development Program PSSI.
“Indonesia memang harus istirahat sejenak dalam sepakbola, namun
apakah bisa dipertanggung jawabkan oleh PSSI, Presiden, Menpora dan
semua pihak yang terkait mengenai sanksi FIFA?” kata Hildan kepada
Tanjungsari Media, Senin(1/6).
Terlepas dari pro kontra yang terjadi, semua pihak menginginkan hal yang sama, yaitu kemajuan sepak bola Merah Putih.
sumber : http://tanjungsarimedia.tk/blog/2015/06/01/terkait-sanksi-fifa-untuk-pssi-ini-tanggapan-warga-tanjungsari/